Bulan
puasa merupakan bulan yang suci, agung dan penuh dengan kemuliaan. Pada bulan
puasa ribuan malaikat bahkan dengan jumlah yang tak terhingga
berbondong-bondong turun ke bumi. Berbagai kemuliaan, keberkahan, rahmat dan
ampunan Allah Swt menjadi perhiasaan bagi orang-orang yang beriman dan
bertaqwa. Eksistensi akan kemuliaan bulan puasa semakin ditunjukkan dengan diikatnya
mahluk tuhan yang bernama syetan dan iblis. Hal itu dilakukan agar tidak
mengotori keagungan bulan puasa. Namun, manusia yang tuli, buta dan hati yang
gelap gulita tidak mau mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Hal ini dibuktikan
dengan banyaknya umat muslim yang tidak menjalankan puasa. Berbagai warung
makanan yang dibuka secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi menjadi pelarian
bagi umat muslim yang tidak menjalankan puasa. Fenomena pencurian bukan malah
berkurang, justru pada bulan puasa fenomena pencurian semakin marak. Aku tidak
mengerti, kenapa orang-orang seperti itu, tdak mau menghormati bulan ramadhan
yang penuh dengan keagungan.
Sejauh
ini jawaban atas pernyataan tersebut, dikarenakan belum silap dan belum l;ayak
untuk memasuki bulan puasa. Landasan ontologoi saya mengatakan seperti itu. Di dalam
agama Islam, sebelum datangnya bulan ramadhan, terlebih dahulu kita akan
memasuki bulan rajab dan sya’ban. Bulan rajab dikenal sebagai bulan penyucian
maksiat lahiriah. Sedangkan bulan sya’ban dikenal dengan bulan penyucian
bathiniah. Setelah kita bisa melewati bulan tersebut, baru kita akan memasuki
bulan ramadhan yakni bulan kemenangan atau bulan kesucian. Sebenarnya yang
disebut suci, apakah bulannya atau orang-orang yang memasuki bulan tersebut? Pertanyaan
akan saya jawab dengan proses sebelum kita memasuki bulan ramadhan. Apabila kita
perhatikan secara seksama, ada dua bulan yakni bulan rajab dan sya’ban. Kedua bulan
tersebut, digunakan untuk menyucikan maksiat lahir dan bathin. Jadi singkatnya,
yang dikatakan suci adalah oranya. Sedangkan bulan ramadhan dikenal dengan
bulan kemenangan. Dikatakan bulan kemenangan,hanya diperuntukkan kepada
hamba-hamba allah swt yang telah mampu menyucikan maksiat lahir dan bathin pada
bulan rajab dan sya’ban. Sehingga ketika memasuki bulan ramadhan sudah dalam
keadaan suci. Kemduian yang jadi pertanyaannya, layakkah orang yang masih
berdosa memasuki bulan puasa? Wallahu’alam bisshowab.






0 komentar:
Posting Komentar